Siapa bilang koran bekas hanya berakhir di tempat sampah? Di Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, lembaran koran yang sudah tidak terpakai justru dapat berubah menjadi benda kerajinan bernilai seni.
Salah satu contoh menariknya adalah Bokor Carangsari, karya kreatif yang kini ikut diperkenalkan sebagai bagian dari produk Desa Wisata Carangsari.
Kerajinan ini berkaitan erat dengan sosok I Ketut Tirtayasa, warga Banjar Beng, Desa Adat Carangsari. Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat bahwa Tirtayasa, seorang penyandang disabilitas, memanfaatkan barang bekas ramah lingkungan untuk menghasilkan bokor.
Bahkan, pengunjung dapat mengenal sekaligus belajar membuat kreasi bokor ketika berwisata di Carangsari.
Cerita di balik Bokor Carangsari membuat produk ini menarik lebih dari sekadar bentuknya. Ada kreativitas, kemandirian, pemanfaatan limbah, ekonomi lokal, dan pariwisata yang bertemu dalam satu kerajinan.
Mari melihat lebih dekat bagaimana karya sederhana dari koran bekas ini menjadi bagian dari wajah kreatif masyarakat Carangsari.
Apa Itu Bokor Carangsari?
Bokor merupakan salah satu bentuk wadah yang sudah dikenal dalam tradisi kerajinan Bali. Dalam catatan mengenai kerajinan Bali, bokor juga ditemukan sebagai bagian dari perlengkapan yang digunakan untuk kebutuhan budaya dan upacara.
Seiring berkembangnya kreativitas, bahan pembuatnya tidak harus selalu logam atau material tradisional. Di Carangsari, pendekatannya jauh lebih unik.
Bokor Carangsari dibuat dengan memanfaatkan koran bekas. Jadesta Kementerian Pariwisata secara khusus memperkenalkannya sebagai karya I Ketut Tirtayasa dari Banjar Beng yang menggunakan barang bekas ramah lingkungan.
Dari sini terlihat bahwa kekuatan produk tersebut bukan sekadar fungsi sebagai wadah. Material yang sebelumnya dianggap tidak berguna mendapatkan kehidupan kedua setelah diolah menjadi benda dengan nilai estetika.
Hal ini membuat Bokor Carangsari berada di persimpangan antara kerajinan tradisional dan kreativitas kontemporer.
Bentuk produknya tetap dekat dengan budaya Bali, tetapi bahan yang digunakan menjawab persoalan yang sangat modern: bagaimana memanfaatkan limbah dengan lebih kreatif.
I Ketut Tirtayasa, Sosok di Balik Bokor Carangsari
Cerita Bokor Carangsari sulit dipisahkan dari I Ketut Tirtayasa.
Ia merupakan warga Banjar Beng, Desa Carangsari, yang mengembangkan keterampilan mengolah limbah kertas koran menjadi kerajinan.
Pemerintah Kabupaten Badung pada April 2026 mencatat Tirtayasa mampu menghasilkan berbagai anyaman bernilai seni, termasuk bokor, tempat tisu, tas, hingga wadah bunga.
Yang membuat perjalanannya semakin menarik adalah Tirtayasa merupakan penyandang disabilitas. Namun, kerajinannya berkembang sebagai kegiatan produktif dan usaha ekonomi.
Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung pada 2022 bahkan mencatat penyerahan izin berusaha kepada IKM kerajinan bokor berbahan koran bekas UD Tirta Nadi di Banjar Beng, Desa Carangsari.
Fakta tersebut penting karena menunjukkan bahwa kerajinan ini tidak sekadar aktivitas hobi.
Ada proses menuju usaha yang lebih formal. Dengan memiliki identitas usaha, produk berpeluang dipasarkan secara lebih luas, memperoleh pembinaan, dan terhubung dengan berbagai program pengembangan industri kecil.
Cerita Tirtayasa sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi kreatif desa dapat tumbuh dari keterampilan individual yang kemudian mendapatkan ruang dalam ekosistem masyarakat dan pariwisata.
Dari Koran Bekas Menjadi Kerajinan Bernilai
Bagian paling menarik dari kerajinan ini tentu berada pada perubahan fungsi bahan.
Koran yang sudah selesai dibaca biasanya mempunyai nilai ekonomi yang relatif rendah. Namun, di tangan perajin, bahan tersebut dapat diolah menjadi anyaman dan dibentuk menjadi berbagai produk yang memiliki fungsi baru.
Pemerintah Kabupaten Badung secara khusus menggambarkan karya Tirtayasa sebagai pengolahan limbah kertas koran menjadi anyaman bernilai seni tinggi.
Konsepnya sederhana, tetapi dampaknya menarik.
Satu sisi berhubungan dengan kreativitas. Bahan yang terlihat biasa dapat menghasilkan produk dekoratif ketika dipadukan dengan keterampilan, kesabaran, dan desain.
Sisi lainnya berhubungan dengan lingkungan. Memanfaatkan kembali koran berarti memperpanjang usia material sebelum akhirnya menjadi sampah.
Bukan Sekadar Mendaur Ulang
Kerajinan seperti ini lebih menarik jika dipahami sebagai proses upcycling. Barang lama tidak hanya diproses kembali menjadi material serupa, tetapi ditingkatkan menjadi produk baru yang mempunyai fungsi serta nilai lebih tinggi.
Nilainya juga tidak lagi ditentukan oleh harga koran bekas.
Ketika bahan tersebut berubah menjadi bokor, tas, tempat tisu, atau wadah bunga, terdapat tambahan nilai dari desain, keterampilan tangan, waktu pengerjaan, dan cerita pembuatnya.
Inilah salah satu alasan kerajinan berbahan limbah dapat mempunyai posisi menarik dalam ekonomi kreatif.
Tidak Hanya Bokor, Produknya Semakin Beragam
Nama Bokor Carangsari memang menjadi produk yang paling ditonjolkan dalam katalog Desa Wisata Carangsari. Namun, keterampilan I Ketut Tirtayasa ternyata berkembang ke bentuk yang lebih luas.
Pada kunjungan Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Badung pada April 2026, pemerintah daerah mencatat beberapa jenis produk yang dibuat dari koran bekas, yaitu bokor, tempat tisu, tas, dan wadah bunga.
Diversifikasi seperti ini penting bagi usaha kerajinan.
Tidak semua konsumen membutuhkan bokor. Sebagian orang mungkin lebih tertarik membeli tempat tisu untuk rumah, tas sebagai aksesori, atau wadah bunga untuk dekorasi.
Semakin beragam fungsi produk, semakin luas pula calon pasarnya.
Yang menarik, pada kunjungan tersebut GOW Kabupaten Badung juga memesan 50 buah tempat tisu hasil karya Tirtayasa sekaligus memberikan bantuan bahan baku berupa koran.
Dukungan seperti ini memperlihatkan bahwa kerajinan berbahan limbah mempunyai peluang pasar nyata ketika produknya diperkenalkan kepada konsumen yang tepat.
Bokor Carangsari sebagai Produk Ramah Lingkungan
Isu lingkungan membuat Bokor Carangsari semakin relevan.
Produk ini menunjukkan bahwa pendekatan ramah lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Di tingkat desa, langkah sederhana seperti menggunakan kembali kertas koran dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus mengurangi barang yang langsung dibuang.
Jadesta sendiri menekankan penggunaan barang bekas ramah lingkungan dalam deskripsi Bokor Carangsari.
Namun, nilai lingkungannya akan menjadi semakin kuat jika proses produksinya terus dikembangkan secara konsisten.
Misalnya, bahan utama dapat dikumpulkan dari masyarakat, hotel, kantor, sekolah, maupun kegiatan desa. Sistem semacam ini dapat menciptakan hubungan antara pengelolaan sampah dengan kegiatan produktif.
Hal tersebut sebenarnya mulai terlihat dalam dukungan pemerintah. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Badung pada 2026 mencatat adanya penyerahan bantuan koran bekas kepada IKM binaan penyandang disabilitas I Ketut Tirtayasa di Banjar Beng.
Artinya, sesuatu yang bagi satu pihak dianggap limbah dapat berubah menjadi bahan baku bagi pelaku ekonomi kreatif.
Dari Produk Kerajinan Menjadi Pengalaman Wisata
Bokor Carangsari memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua produk kerajinan: ia berada di dalam ekosistem Desa Wisata Carangsari.
Jadesta tidak hanya mencatat bokor sebagai produk yang bisa dikenal wisatawan. Pengunjung juga disebut dapat belajar membuat bokor cantik dengan kreasi sendiri.
Konsep ini menarik karena nilai ekonominya tidak berhenti pada penjualan barang.
Bayangkan wisatawan datang ke Carangsari, bertemu perajin, melihat bahan koran bekas, belajar proses pembentukan kerajinan, kemudian mencoba membuat karya sederhana.
Produk yang dibawa pulang akhirnya mempunyai hubungan emosional lebih kuat karena wisatawan mengetahui cerita dan proses pembuatannya.
Model seperti ini sering disebut wisata kreatif atau pengalaman berbasis keterampilan.
Bagi desa, manfaatnya juga lebih luas. Perajin memperoleh pendapatan bukan hanya melalui penjualan produk, tetapi berpotensi melalui aktivitas edukasi. Wisatawan tinggal lebih lama, sementara kerajinan lokal mendapatkan ruang promosi secara langsung.
Jadesta saat ini memang menempatkan Paket Wisata Bokor Carangsari bersama berbagai kegiatan lain dalam ekosistem Desa Wisata Carangsari. Desa tersebut juga tercatat masuk 50 besar ADWI 2021 kategori Desa Berkembang.
Kerajinan Kreatif Carangsari Tidak Berhenti pada Bokor
Bokor hanyalah salah satu contoh dari beragam produk kreatif yang mulai diperkenalkan melalui Desa Wisata Carangsari.
Katalog Jadesta juga mencantumkan Udeng Carangsari, Lukisan Carangsari, kaus We Love Carangsari Bali, Carangsari Heritage Run T-Shirt, serta beberapa produk ekonomi kreatif lainnya.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa identitas desa dapat diterjemahkan menjadi banyak jenis karya.
Sejarah I Gusti Ngurah Rai dapat menjadi inspirasi desain. Topeng Tugek dapat menjadi sumber ide visual. Lanskap sawah, Sungai Ayung, Puri Carangsari, serta budaya masyarakat juga dapat diterjemahkan ke dalam lukisan, pakaian, aksesori, maupun suvenir.
Jika dikembangkan dengan konsisten, kerajinan kreatif dapat memperkuat posisi Carangsari sebagai desa wisata yang tidak hanya menjual pemandangan.
Wisatawan datang untuk mendapatkan cerita, pengalaman, dan produk yang mempunyai hubungan nyata dengan masyarakat setempat.
Carangsari Festival Membantu Produk Lokal Bertemu Pasar
Produk kreatif membutuhkan tempat untuk dikenal. Salah satu ruang tersebut hadir melalui Carangsari Festival.
Ketika festival pertama dipersiapkan pada 2022, Pemerintah Desa Carangsari secara khusus membahas kerja sama dengan UMKM lokal dan rencana mengadakan pameran produk.
Pemerintah desa menilai kegiatan tersebut dapat membantu promosi sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. Model tersebut dilanjutkan dalam penyelenggaraan berikutnya.
Pada Carangsari Festival 2023, pemerintah desa kembali menyebut tujuan kegiatan antara lain mempromosikan Carangsari sebagai desa wisata sekaligus membangkitkan UMKM lokal.
Festival seperti ini penting bagi perajin kecil karena mereka tidak selalu mempunyai toko besar atau anggaran pemasaran digital.
Pameran desa memberi kesempatan produk bertemu langsung dengan calon pembeli. Perajin juga bisa mengetahui produk mana yang paling diminati, menerima masukan, membangun jaringan, bahkan memperoleh pesanan baru.
Bagi Bokor Carangsari, semakin banyak ruang seperti ini berarti semakin besar peluang agar produknya dikenal di luar Banjar Beng.
Tantangan dan Potensi Bokor Carangsari ke Depan
Walaupun memiliki cerita yang kuat, perjalanan Bokor Carangsari masih mempunyai beberapa tantangan.
Pertama adalah ketersediaan bahan baku. Karena koran cetak semakin sedikit digunakan di era digital, pasokan kertas bekas mungkin tidak selalu semudah dahulu.
Dukungan berupa pengumpulan koran bekas, seperti yang telah dilakukan pemerintah daerah, dapat membantu menjaga keberlanjutan produksi.
Kedua adalah regenerasi keterampilan.
Jika teknik pembuatannya hanya dikuasai satu atau beberapa orang, keberlanjutan produk menjadi bergantung pada mereka. Karena itu, kegiatan wisata belajar membuat bokor dapat sekaligus berkembang menjadi sarana mengenalkan keterampilan kepada generasi muda.
Ketiga adalah branding.
Nama Bokor Carangsari sebenarnya sudah cukup kuat karena langsung menghubungkan produk dengan daerah asalnya. Langkah berikutnya adalah memperkuat cerita mengenai pembuat, bahan daur ulang, proses kreatif, dan manfaat sosialnya.
Dengan kemasan dan pemasaran yang baik, produk tidak harus diposisikan sebagai suvenir murah. Ia dapat dikembangkan sebagai kerajinan ramah lingkungan yang mempunyai nilai cerita, keterampilan, dan dampak sosial.
Bokor Carangsari membuktikan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari sesuatu yang sangat sederhana. Melalui tangan I Ketut Tirtayasa di Banjar Beng, koran bekas dapat berubah menjadi bokor, tempat tisu, tas, dan wadah bunga yang mempunyai nilai seni sekaligus ekonomi.
Kerajinan ini juga memiliki cerita yang kuat: dibuat oleh perajin penyandang disabilitas, memanfaatkan limbah, berkembang sebagai IKM, dan kini menjadi bagian dari pengalaman Desa Wisata Carangsari.
Dukungan pemerintah, festival UMKM, serta wisata kreatif membuka peluang agar produknya semakin dikenal. Saat berkunjung ke Carangsari, jangan hanya menikmati alam dan situs sejarahnya.
Cari produk kerajinan masyarakat, kenali pembuatnya, atau coba pengalaman membuat Bokor Carangsari. Membeli karya lokal berarti membantu kreativitas dan ekonomi desa terus hidup.
FAQ
1. Apa itu Bokor Carangsari?
Bokor Carangsari adalah kerajinan berbahan barang bekas, terutama koran, yang dikembangkan oleh I Ketut Tirtayasa dari Banjar Beng, Desa Carangsari, Badung.
2. Siapa pembuat Bokor Carangsari?
Perajin yang terdokumentasi sebagai pembuat Bokor Carangsari adalah I Ketut Tirtayasa, warga penyandang disabilitas dari Banjar Beng, Desa Carangsari. Usahanya tercatat sebagai IKM UD Tirta Nadi.
3. Bokor Carangsari terbuat dari apa?
Produk ini dibuat dengan memanfaatkan kertas koran bekas yang diolah menjadi kerajinan. Selain bokor, material tersebut juga digunakan untuk membuat tempat tisu, tas, dan wadah bunga.
4. Apakah wisatawan bisa belajar membuat Bokor Carangsari?
Ya. Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut pengunjung dapat belajar membuat bokor dengan kreasi sendiri sebagai bagian dari produk wisata Desa Carangsari.
5. Apa saja kerajinan kreatif lain di Carangsari?
Selain bokor, katalog Desa Wisata Carangsari juga mencantumkan produk seperti Udeng Carangsari, Lukisan Carangsari, kaus bertema Carangsari, dan berbagai produk kreatif serta UMKM lainnya.