Mengenal UMKM Lokal di Desa Carangsari dan Produk Unggulannya

Carangsari tidak hanya menarik karena menjadi tanah kelahiran I Gusti Ngurah Rai, memiliki panorama Badung Utara yang hijau, atau menawarkan wisata di sekitar Sungai Ayung.

Di balik aktivitas wisata tersebut, ada pelaku usaha lokal yang ikut membuat ekonomi desa terus bergerak. UMKM lokal di Desa Carangsari hadir dalam beragam bentuk.

Ada makanan tradisional seperti Bubuh Carangsari, tahu dan serundeng, produk perkebunan berupa kopi dan madu, produk cokelat, hingga kerajinan serta usaha kreatif.

Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata saat ini mencantumkan berbagai produk tersebut sebagai bagian dari ekosistem Desa Wisata Carangsari.

Perannya semakin penting karena Carangsari tidak ingin pariwisata berhenti pada kunjungan ke objek wisata. Pemerintah desa dan Kabupaten Badung juga menggunakan festival, pameran, serta promosi desa wisata untuk memberi ruang kepada pengusaha lokal.

Pada Carangsari Festival, misalnya, UMKM menjadi salah satu elemen yang sengaja difasilitasi agar produknya dikenal lebih luas.

Lantas, seperti apa ragam usaha lokal di Carangsari dan seberapa besar potensinya?

UMKM Menjadi Bagian Penting Desa Wisata Carangsari

Carangsari berada di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Desa ini masih mempunyai karakter agraris yang kuat; profil pemerintah desa menyebut sekitar 60 persen warganya beraktivitas dalam kegiatan bercocok tanam.

Kondisi tersebut memberikan dasar yang menarik bagi perkembangan usaha berbasis pangan, pertanian, perkebunan, dan produk olahan.

Di sisi lain, Carangsari berkembang sebagai desa wisata. Jadesta mencatat desa ini masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 dalam kategori desa berkembang.

Atraksinya mencakup sejarah, budaya, rafting, trekking, perkebunan kopi dan kakao, wisata spiritual, hingga produk ekonomi kreatif.

Kombinasi tersebut membuka peluang yang cukup besar.

Petani tidak harus berhenti menjual hasil kebun. Produk dapat diolah dan dikemas. Pembuat makanan mendapat pasar dari wisatawan.

Perajin memperoleh ruang menjual karya, sedangkan kegiatan wisata menciptakan permintaan terhadap makanan, suvenir, penginapan, hingga jasa lokal.

Inilah mengapa UMKM mempunyai posisi strategis dalam pengembangan Carangsari: pariwisata menjadi pasar, sementara usaha lokal membuat pengalaman wisata menjadi lebih autentik.

Kuliner Lokal Menjadi Salah Satu Kekuatan UMKM Carangsari

Sektor makanan merupakan bagian yang cukup menonjol.

Pada daftar suvenir dan produk Desa Wisata Carangsari di Jadesta terdapat Bubuh Carangsari, Serundeng Kelapa Carangsari, Buluh Baon Carangsari, Tahu Carangsari Men Kadek, serta Kacang Bali Parni Carangsari.

Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif desa tidak harus selalu dimulai dengan produk yang rumit.

1. Bubuh Carangsari

Bubuh Carangsari merupakan salah satu kuliner yang paling mudah dikaitkan dengan identitas desa. Makanan ini dikenal sebagai hidangan sarapan dan memiliki cerita menarik karena resepnya disebut memadukan tradisi bubur China dengan bubuh Bali.

Nilai ekonominya tidak hanya berasal dari semangkuk makanan. Jika dikembangkan sebagai pengalaman gastronomi, wisatawan dapat datang pagi hari untuk mencicipinya sekaligus mendengar cerita mengenai kuliner Carangsari.

2. Serundeng, Tahu, dan Kacang Sebagai Produk Praktis

Produk seperti serundeng kelapa dan kacang Bali mempunyai keunggulan karena relatif mudah dibawa sebagai oleh-oleh. Dibanding makanan yang harus langsung disantap, produk semacam ini memiliki peluang lebih besar untuk dikemas, diberi merek, dan dipasarkan di luar desa.

Tahu Carangsari Men Kadek memperlihatkan sisi lainnya. Produk sehari-hari yang kelihatannya sederhana pun dapat menjadi identitas usaha lokal jika kualitas, konsistensi, dan ceritanya dikembangkan dengan baik.

Jadesta juga mencantumkan Susu Kedelai Gian Carangsari dalam kelompok paket atau produk wisata. Hal ini memperlihatkan bahwa pilihan usaha pangan lokal cukup beragam dan tidak hanya bergantung pada makanan tradisional.

Kopi, Madu, dan Produk Pertanian Punya Potensi Nilai Tambah

Carangsari memiliki lanskap perkebunan kopi dan kakao yang ikut dipromosikan sebagai bagian dari pengalaman trekking dan bersepeda di desa. Tidak mengherankan jika beberapa produk UMKM juga berhubungan dengan kekayaan alam tersebut.

Dalam daftar produk Desa Wisata Carangsari terdapat Kopi Pure Bali Carangsari, Madu Trigona Carangsari, serta Madu Kele Carangsari. Jadesta juga mencantumkan VCO Florist Carangsari sebagai salah satu penawaran dalam ekosistem produk wisata desa.

Produk-produk seperti ini menarik karena bahan dari sektor primer dapat memperoleh nilai lebih tinggi setelah diolah.

Kopi, misalnya, dapat dikembangkan dari sekadar buah atau biji menjadi kopi sangrai, bubuk, drip bag, atau paket oleh-oleh. Madu dapat dipasarkan bukan hanya sebagai hasil budidaya lebah, tetapi sebagai produk desa dengan informasi asal, jenis lebah, serta cerita peternaknya.

VCO atau virgin coconut oil mempunyai peluang serupa. Produk pertanian yang awalnya terlihat sederhana dapat menjadi barang bernilai lebih tinggi ketika pengolahan, kebersihan, kemasan, legalitas, dan pemasaran diperhatikan.

Bagi Carangsari, pendekatan semacam ini penting agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

Cokelat dan Junglegold Membawa Konsep Wisata Produk

Salah satu nama yang paling menonjol dalam ekosistem usaha Desa Wisata Carangsari adalah Junglegold Bali atau Pod Chocolate.

Jadesta mencantumkan Junglegold sebagai produk UMKM dan menyediakan Pod Chocolate Tour sebagai salah satu paket wisata.

Situs Pemerintah Desa Carangsari juga pernah menyebut Pod Junglegold Bali sebagai salah satu UMKM Desa Wisata Carangsari ketika menerima kunjungan studi tiru dari anggota DPRD Kota Banjarbaru pada September 2022.

Hal menarik dari model ini adalah produk dan pengalaman wisata berjalan bersama.

Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli cokelat. Wisata berbasis cokelat dapat memperkenalkan proses pengolahan bahan hingga menjadi produk akhir. Dengan demikian, kegiatan produksi sendiri dapat menjadi daya tarik wisata.

Pendekatan ini bisa menjadi inspirasi bagi UMKM Carangsari lainnya.

Produk kopi dapat dikembangkan bersama pengalaman menyeduh. Madu dapat dikaitkan dengan edukasi lebah. Kuliner tradisional bisa dihubungkan dengan kelas memasak. Kerajinan dapat dikemas dalam lokakarya singkat.

Nilai yang dijual akhirnya bukan hanya barang, tetapi juga pengalaman membuat dan memahami barang tersebut.

Kerajinan dan Ekonomi Kreatif Tidak Kalah Menarik

UMKM Carangsari juga tidak terbatas pada makanan dan hasil pertanian.

Daftar Jadesta memperlihatkan adanya Bokor Carangsari, Udeng Carangsari, kaus “We Love Carangsari Bali”, lukisan Carangsari, serta Rare Baby Shop sebagai bagian dari penawaran produk desa wisata.

Salah satu video yang ditampilkan Jadesta bahkan memperkenalkan “Bokor Koran Karya Penyandang Disabilitas Carangsari”.

Keberadaan produk kreatif seperti ini memperluas peluang ekonomi masyarakat.

Suvenir merupakan bagian penting dalam industri wisata karena menjadi benda yang dibawa pulang pengunjung. Namun, suvenir yang kuat sebaiknya mempunyai hubungan nyata dengan tempat asalnya.

Carangsari mempunyai banyak sumber inspirasi untuk desain produk: I Gusti Ngurah Rai, Topeng Tugek, arsitektur puri, sawah, Sungai Ayung, hingga identitas sejarah desa.

Bayangkan kaus, lukisan, kerajinan dekoratif, atau produk berbahan ramah lingkungan yang memiliki desain khas Carangsari. Jika dibuat dengan baik, wisatawan tidak sekadar membeli barang, tetapi membawa pulang cerita tentang desa yang mereka kunjungi.

Carangsari Festival Membuka Panggung bagi Pelaku UMKM

UMKM membutuhkan produk yang bagus, tetapi produk bagus juga membutuhkan tempat untuk bertemu konsumen. Di sinilah kegiatan seperti Carangsari Festival mempunyai fungsi penting.

Pada penyelenggaraan festival pertama pada 2022, Pemerintah Kabupaten Badung secara eksplisit menyatakan kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memfasilitasi UMKM, kegiatan seni, dan pariwisata.

Pameran UMKM diikuti pelaku usaha dari Carangsari maupun beberapa usaha dari luar desa. Bahkan tersedia pula kegiatan talkshow kewirausahaan untuk generasi muda.

Festival dilanjutkan pada tahun berikutnya. Pemerintah Desa Carangsari mencatat gelaran 2023 berlangsung tiga hari dan pada hari ketiga menarik sekitar 3.000 pengunjung.

Salah satu tujuannya adalah membangkitkan UMKM lokal sehingga ikut meningkatkan perekonomian masyarakat.

Angka pengunjung tersebut memberikan gambaran mengapa acara desa bisa mempunyai efek ekonomi.

Ribuan orang yang datang membutuhkan makanan, minuman, suvenir, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya. Pelaku UMKM mendapat kesempatan memperkenalkan produknya kepada konsumen yang sebelumnya mungkin tidak mengenal Carangsari.

Festival dengan demikian bukan hanya panggung hiburan. Ia juga dapat menjadi pasar sementara, ruang promosi, serta tempat menguji respons konsumen terhadap produk baru.

Pariwisata Membuka Pasar Lebih Luas bagi Produk Desa

Keuntungan besar Carangsari adalah UMKM berkembang di tengah ekosistem pariwisata.

Desa ini memiliki rafting Sungai Ayung, trekking, cycling, Topeng Tugek, Monumen I Gusti Ngurah Rai, Puri Agung Carangsari, Taman Beji Samuan, homestay, dan berbagai pengalaman wisata lainnya.

Jadesta secara langsung merekomendasikan wisatawan untuk berbelanja produk UMKM ketika berada di desa.

Promosi Carangsari sebagai destinasi Badung Utara juga masih berlangsung. Pada Mei 2026, Dinas Pariwisata Badung membawa 70 delegasi travel agent dari India dalam rangkaian familiarization trip, dan Carangsari menjadi salah satu desa yang mereka kunjungi.

Program tersebut ditujukan untuk memperkenalkan potensi pariwisata Badung Tengah dan Badung Utara secara lebih luas.

Bagi UMKM, semakin dikenal sebuah destinasi, semakin besar pula peluang memperoleh konsumen baru.

Tantangannya adalah memastikan wisatawan benar-benar menemukan produk lokal. Jangan sampai pengunjung datang ke desa, melakukan rafting atau melihat monumen, kemudian langsung pergi tanpa mengetahui adanya kopi, madu, makanan, dan kerajinan masyarakat.

Karena itu, toko bersama, sudut UMKM di destinasi wisata, paket oleh-oleh, katalog digital, serta kerja sama dengan homestay dan pemandu bisa menjadi strategi yang efektif.

Digitalisasi dan Branding Menjadi Tantangan Berikutnya

Potensi produk saja belum cukup untuk membuat sebuah UMKM berkembang.

Kementerian UMKM saat ini menempatkan digitalisasi, pembiayaan, penguatan ekosistem usaha, peningkatan standar, sertifikasi, inovasi, serta kemitraan sebagai beberapa isu penting dalam pengembangan UMKM Indonesia.

Tantangan yang sama relevan untuk usaha berbasis desa.

Produk Carangsari akan semakin mudah dikenali jika mempunyai nama merek yang jelas, desain kemasan konsisten, foto produk berkualitas, akun media sosial aktif, serta informasi pemesanan yang sederhana.

Legalitas dan standar produk juga penting, khususnya untuk makanan dan minuman.

Kemudian ada persoalan cerita merek. Menjual “kopi” berbeda dengan menjual kopi yang memiliki cerita petani dan asal kebun. Menjual serundeng berbeda dengan memperkenalkan produk buatan keluarga Carangsari dengan resep serta bahan yang mempunyai hubungan dengan desa.

Cerita yang autentik membuat produk sulit dibandingkan hanya berdasarkan harga.

Cara Wisatawan Mendukung UMKM Carangsari

Mendukung UMKM lokal sebenarnya tidak rumit.

Ketika berkunjung, pilih makanan dari warung atau produsen lokal, beli produk desa sebagai oleh-oleh, gunakan pemandu setempat, dan pertimbangkan penginapan yang melibatkan masyarakat.

Jika menemukan produk yang disukai, membagikannya melalui media sosial atau memberikan ulasan juga dapat membantu memperluas jangkauan usaha kecil.

Namun, pembeli juga sebaiknya tetap kritis.

Tidak semua produk yang dijual di sebuah destinasi otomatis dibuat dari bahan Carangsari. Jika asal bahan atau proses produksi penting bagi Anda, tanyakan langsung kepada produsennya.

Pendekatan tersebut justru membantu mendorong transparansi dan membuat istilah “produk lokal” memiliki makna yang lebih kuat.

UMKM lokal di Desa Carangsari memperlihatkan bagaimana ekonomi desa dapat berkembang dari banyak sumber sekaligus.

Ada Bubuh Carangsari, serundeng, tahu, kacang Bali, susu kedelai, kopi, madu, VCO dan cokelat, kemudian berkembang pula kerajinan seperti bokor, udeng, lukisan, dan produk kreatif lainnya. Berbagai produk tersebut kini menjadi bagian dari ekosistem Desa Wisata Carangsari.

Potensinya semakin besar karena Carangsari mempunyai wisata sejarah, budaya, alam, dan petualangan yang terus dipromosikan. Tantangannya adalah memperkuat mutu produk, kemasan, digitalisasi, pemasaran, serta hubungan langsung antara UMKM dan wisatawan.

Jika berkunjung ke Carangsari, jangan hanya datang untuk melihat tempat wisatanya. Cicipi produk lokal, kunjungi pelaku usahanya, dan bawa pulang karya masyarakat desa. Belanja sederhana seperti itu dapat membantu manfaat pariwisata tetap berputar di Carangsari.

FAQ

1. Apa saja UMKM dan produk lokal yang ada di Carangsari?

Jadesta mencantumkan berbagai produk seperti Bubuh Carangsari, serundeng kelapa, madu trigona, Madu Kele, Kopi Pure Bali, Tahu Carangsari Men Kadek, Kacang Bali Parni, Junglegold Bali, VCO, susu kedelai, bokor, udeng, serta lukisan. Daftar tersebut merupakan produk dalam ekosistem desa wisata dan bukan berarti sensus lengkap seluruh UMKM terdaftar di Carangsari.

2. Apakah Carangsari memiliki UMKM cokelat?

Ya. Pemerintah Desa Carangsari pernah menyebut Pod Junglegold Bali sebagai salah satu UMKM Desa Wisata Carangsari, sementara Jadesta juga mencantumkan Junglegold/Pod Chocolate dan paket wisata cokelat.

3. Bagaimana Carangsari membantu mempromosikan UMKM lokal?

Salah satu caranya melalui Carangsari Festival. Kegiatan tersebut menyediakan pameran UMKM sekaligus menjadi wadah promosi produk, seni, budaya, dan pariwisata desa.

4. Mengapa desa wisata penting bagi UMKM Carangsari?

Desa wisata membawa calon konsumen langsung ke wilayah tempat produk dibuat atau dijual. Wisatawan yang datang untuk sejarah, budaya, rafting, trekking, atau aktivitas lain dapat sekaligus membeli kuliner dan suvenir lokal.

5. Apa tantangan pengembangan UMKM Carangsari ke depan?

Beberapa tantangan utamanya adalah konsistensi mutu, kemasan, legalitas, sertifikasi, digitalisasi, pemasaran, serta kemampuan membangun merek dan jaringan penjualan. Isu standar, teknologi, inovasi, dan kemitraan juga menjadi perhatian dalam kebijakan pengembangan UMKM nasional.