Bali memiliki banyak tempat yang membuat alam dan kehidupan spiritual terasa berjalan berdampingan. Salah satunya tersembunyi di kawasan hijau Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.
Namanya Taman Beji Samuan, sebuah tempat penglukatan yang berada di lembah dekat aliran Sungai Yeh Penet.
Berbeda dari tempat wisata yang menawarkan keramaian, daya tarik Taman Beji Samuan justru terletak pada ketenangannya. Pengunjung harus turun melewati ratusan anak tangga dengan pepohonan rimbun di sekeliling sebelum tiba di kawasan mata air dan tempat melukat.
Jadesta Kementerian Pariwisata menggambarkannya sebagai kawasan suci di lembah Sungai Yeh Penet dengan lingkungan hutan yang masih asri.
Taman Beji Samuan Carangsari kini menjadi salah satu atraksi spiritual yang dipromosikan dalam Desa Wisata Carangsari. Meski terbuka bagi pengunjung, fungsi utamanya sebagai ruang suci tetap perlu dihormati.
Jika Anda menyukai wisata alam yang tenang sekaligus ingin mengenal tradisi Bali secara lebih dekat, tempat ini menawarkan pengalaman yang berbeda.
Mengenal Taman Beji Samuan di Desa Carangsari
Taman Beji Samuan berada di wilayah Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Secara administratif, Carangsari memiliki luas sekitar 885 hektare dan berada di antara Sungai Penet di sebelah barat serta Sungai Ayung di sebelah timur.
Taman Beji Samuan berada di sisi lembah Yeh Penet atau Sungai Penet, sehingga suasananya cukup berbeda dibanding kawasan permukiman desa. Jadesta menyebut lokasi ini sebagai wisata alam sekaligus kawasan suci untuk melukat.
Untuk mencapai bagian utama penglukatan, pengunjung perlu turun melalui sekitar ratusan hingga kurang lebih 300 anak tangga. Perjalanan tersebut ditemani suara burung, pepohonan, udara sejuk, dan suara aliran air dari lembah.
Sistem Informasi Pariwisata Kabupaten Badung juga menempatkan Taman Beji Samuan sebagai salah satu daya tarik spiritual utama Desa Wisata Carangsari, berdampingan dengan wisata sejarah dan petualangan yang dimiliki desa.
Jadi, tempat ini tidak berdiri sendiri. Taman Beji Samuan menjadi bagian dari pengalaman yang lebih luas untuk mengenal Carangsari melalui alam, tradisi, sejarah, dan kehidupan masyarakatnya.
Mata Air Alami di Tengah Lembah yang Hijau
Salah satu hal paling menarik dari wisata Taman Beji Samuan adalah lokasinya.
Kawasan penglukatan berada di lembah dengan mata air alami yang muncul dari lingkungan tebing. Penelitian Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali mengenai Taman Beji Samuan mencatat keberadaan mata air alami dari tebing di sekitar kawasan sebagai salah satu keunikannya.
Vegetasi yang rapat membuat suasana di sekitar penglukatan terasa sejuk. Setelah menuruni anak tangga, pengunjung akan semakin dekat dengan suara air dan lembah Sungai Penet.
DetikBali melaporkan bahwa pengembangan kawasan bermula ketika warga membuka jalan menuju sebuah pelinggih yang hendak dipugar.
Dalam proses tersebut ditemukan sumber air yang sebelumnya tertutup batu dan semak. Mata air tersebut ternyata terus mengalir, kemudian kawasan ditata dan dibuka lebih luas untuk masyarakat pada 2019.
Sumber air kemudian dikembangkan menjadi beberapa pancuran, termasuk tujuh pancuran yang dikenal berkaitan dengan Sapta Rsi.
Dari sisi wisata alam, perjalanan menuruni lembah menjadi bagian dari pengalaman. Pengunjung tidak langsung bertemu kolam atau pancuran begitu turun dari kendaraan, tetapi melewati transisi dari lingkungan desa menuju kawasan yang semakin hijau dan tenang.
Itulah sebabnya tempat ini terasa cocok bagi wisatawan yang menyukai pengalaman dengan tempo lebih lambat.
Melukat, Tradisi Penyucian dalam Kehidupan Spiritual Bali
Alasan utama banyak orang datang ke Taman Beji Samuan adalah untuk melukat.
Indonesia Travel menjelaskan melukat sebagai ritual penyucian diri dalam tradisi Hindu Bali. Taman Beji Samuan menjadi salah satu tempat di Carangsari di mana wisatawan dapat mengenal atau mengikuti pengalaman tersebut dengan tetap mengikuti tata cara lokal.
Melukat tidak sebaiknya dipahami sekadar sebagai aktivitas mandi di mata air.
Ada unsur persembahyangan, tata cara, pakaian, sarana upacara, serta penghormatan terhadap ruang suci. Karena itu, wisatawan yang baru pertama kali datang sebaiknya mengikuti arahan pemangku atau masyarakat yang bertugas.
Jadesta mencatat bahwa sebelum menjalankan ritual, pemedek melakukan persembahyangan terlebih dahulu. Bagi pengunjung yang pertama kali datang, terdapat ketentuan mengenai sarana persembahyangan, dan warga atau pendamping lokal tersedia untuk memberikan arahan.
Penelitian STIKOM Bali juga mencatat penggunaan pakaian seperti kamen dan selendang dalam kegiatan penglukatan.
Bagi wisatawan non-Hindu, hal terpenting adalah tidak menganggap ritual sebagai atraksi semata. Pengalaman spiritual dapat diikuti dengan sikap terbuka dan hormat terhadap keyakinan serta aturan masyarakat setempat.
Tiga Kawasan Penglukatan di Taman Beji Samuan
Taman Beji Samuan memiliki struktur penglukatan yang lebih kompleks daripada sekadar satu kolam.
Kajian akademis mengenai lokasi tersebut mencatat adanya tiga kawasan utama penglukatan, yaitu Campuhan, Beji Dalem, dan Sapta Rsi.
1. Kawasan Campuhan
Campuhan berkaitan dengan bagian penglukatan yang berada dekat aliran sungai. Kata campuhan dalam konteks Bali kerap berhubungan dengan pertemuan atau kawasan aliran air, sehingga unsur air menjadi bagian penting dari suasananya.
2. Kawasan Beji Dalem
Setelah bagian Campuhan terdapat area Beji Dalem. Pengunjung yang menjalankan ritual mengikuti urutan dan arahan setempat, bukan memilih pancuran hanya berdasarkan tampilan yang menarik.
3. Kawasan Sapta Rsi
Bagian yang paling banyak dikenal wisatawan adalah Sapta Rsi, yang mempunyai tujuh pancuran mata air. DetikBali mencatat bahwa pancuran tersebut dikembangkan setelah ditemukannya sumber air alami dan kemudian diasosiasikan dengan Sapta Rsi dalam kepercayaan lokal.
Urutan ritual dapat memiliki makna dan ketentuan tertentu. Karena itu, bagi pengunjung pertama kali, meminta bantuan pengelola atau masyarakat lokal merupakan pilihan yang lebih baik daripada mencoba menirukan ritual berdasarkan video media sosial.
Keindahan Alam Menjadi Bagian dari Pengalaman Spiritual
Tidak semua orang datang ke Taman Beji Samuan dengan tujuan yang sama. Ada yang memang ingin melukat, ada yang ingin mengenal tradisi Bali, dan ada pula yang tertarik menikmati suasana alam.
Jadesta bahkan secara khusus menonjolkan keindahan alam sebagai salah satu daya tarik tempat ini. Lembah sungai, hutan yang masih hijau, kicauan burung, udara sejuk, dan suara air membuat perjalanan menuju penglukatan memiliki atmosfer yang damai.
Kondisi tersebut memperlihatkan mengapa wisata spiritual sering mempunyai hubungan kuat dengan alam.
Lingkungan yang tenang membantu orang menjauh sejenak dari kebisingan. Perjalanan menuruni tangga juga membuat pengalaman terasa bertahap—semakin turun, suasana semakin jauh dari jalan raya dan aktivitas sehari-hari.
Namun, istilah “wisata alam” jangan sampai membuat pengunjung memperlakukan kawasan seperti taman rekreasi biasa.
Kolam, pancuran, pelinggih, dan area persembahyangan tetap mempunyai fungsi sakral. Mengambil foto sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan situasi, terutama ketika ada orang yang sedang bersembahyang atau melakukan penglukatan.
Keindahan tempat ini justru akan lebih terasa jika dinikmati tanpa mengganggu ketenangan orang lain.
Dari Tempat Suci Menjadi Bagian Desa Wisata Carangsari
Pengembangan Taman Beji Samuan sebagai destinasi tidak terjadi tanpa dukungan desa.
Pada 2022, Pemerintah Desa Carangsari mencatat adanya penataan kawasan, termasuk pembangunan posko informasi pengunjung untuk mendukung Taman Beji Samuan sebagai destinasi wisata religi.
Langkah tersebut berjalan seiring dengan perkembangan Carangsari sebagai desa wisata.
Carangsari berhasil masuk 50 Besar Desa Wisata Terbaik Indonesia dalam ADWI 2021 kategori Desa Berkembang.
Dalam profil Jadesta, Taman Beji Samuan diposisikan sebagai salah satu pengalaman spiritual utama desa bersama berbagai daya tarik lain seperti Puri Agung Carangsari, Monumen I Gusti Ngurah Rai, Topeng Tugek, rafting, trekking, dan cycling.
Pemerintah Kabupaten Badung juga telah menyebut Taman Beji Samuan sebagai salah satu potensi wisata alam Carangsari sejak kunjungan penilaian desa wisata pada 2021.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan menarik. Tempat yang memiliki fungsi sakral bagi masyarakat lokal kini juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi dengan wisatawan.
Tantangannya tentu menjaga agar pertumbuhan kunjungan tidak menghilangkan fungsi aslinya.
Wisata Spiritual yang Tetap Harus Menghormati Kesakralan
Istilah wisata spiritual Carangsari terdengar menarik dalam promosi pariwisata. Namun, tempat seperti Taman Beji Samuan membutuhkan pendekatan yang berbeda dari objek wisata biasa.
Ketika memasuki kawasan, wisatawan pada dasarnya sedang masuk ke ruang yang digunakan masyarakat untuk kegiatan spiritual.
Pakaian yang sopan menjadi hal dasar. DetikBali mencatat pengunjung harus tetap mengenakan pakaian tertutup ketika berada di kawasan kolam, termasuk menggunakan kain atau kamben sesuai ketentuan lokal.
Pengunjung juga perlu memperhatikan aturan mengenai kondisi tertentu yang membatasi masuk ke kawasan suci. Daripada mengandalkan informasi lama dari internet, cara terbaik adalah bertanya kepada petugas atau pengelola ketika tiba karena ketentuan lokal dapat berkembang.
Jangan pula menganggap air dari tempat penglukatan sebagai pengganti pengobatan medis. Berbagai keyakinan mengenai manfaat spiritual merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat, bukan klaim medis yang dapat dijamin secara ilmiah.
Cara paling tepat menikmati Taman Beji Samuan adalah datang dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menghormati batas antara pengalaman wisata dengan praktik keagamaan.
Tips Berkunjung ke Taman Beji Samuan
Secara fisik, perjalanan menuju area utama membutuhkan kemampuan untuk menuruni dan kemudian menaiki kembali ratusan anak tangga. Karena itu, gunakan alas kaki yang nyaman dan sesuaikan kunjungan dengan kondisi tubuh.
Jadesta menyebut medannya relatif mudah dilalui, tetapi jumlah anak tangganya tetap perlu dipertimbangkan terutama bagi lansia atau orang dengan keterbatasan mobilitas.
Datang pada waktu ketika cuaca baik juga lebih nyaman karena lokasinya berada di lembah. Saat musim hujan, permukaan jalan dan tangga berpotensi lebih licin, sementara kondisi sungai bisa berubah.
Jika ingin melakukan melukat, beri tahu petugas bahwa Anda baru pertama kali berkunjung. Pendampingan lokal akan membantu memahami urutan, sarana yang diperlukan, dan tata krama yang berlaku.
Jadesta saat ini mencantumkan Taman Beji Samuan sebagai atraksi resmi Desa Wisata Carangsari beserta kontak pengelola desa.
Karena harga, layanan, dan ketentuan dapat berubah, sebaiknya konfirmasi kembali sebelum perjalanan jika Anda membutuhkan paket atau pendamping khusus.
Taman Beji Samuan dan Potensi Wisata Berkelanjutan
Taman Beji Samuan memiliki satu modal yang sangat berharga: lingkungan alaminya.
Namun, daya tarik tersebut juga berarti kebersihan dan kelestarian lembah harus menjadi prioritas. Semakin banyak pengunjung, semakin besar potensi munculnya sampah, tekanan terhadap fasilitas, dan perubahan suasana tempat.
Karena itu, pengembangan wisata sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah wisatawan.
Sistem pembatasan aktivitas di area sakral, pengelolaan sampah, penggunaan pemandu lokal, edukasi pengunjung, serta pemeliharaan vegetasi dan sumber air jauh lebih penting untuk jangka panjang.
Model seperti ini juga dapat memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Wisatawan yang datang dapat menggunakan pemandu lokal, membeli sarana yang memang diperlukan, menikmati kuliner desa, atau melanjutkan kunjungan ke UMKM dan atraksi Carangsari lainnya.
Dengan demikian, Taman Beji Samuan tidak harus menjadi objek wisata massal. Kekuatan tempat ini justru berada pada pengalaman yang lebih tenang, personal, dan menghormati alam serta tradisi.
Kawasan ini memiliki tiga bagian penglukatan-Campuhan, Beji Dalem, dan Sapta Rsi-serta menjadi salah satu atraksi utama dalam pengembangan Desa Wisata Carangsari.
Daya tariknya bukan sekadar kolam atau tujuh pancuran. Pengalaman terbaik justru hadir ketika pengunjung memahami bahwa alam dan kesakralan tempat tersebut saling berhubungan.
Jika Anda berkunjung ke Badung Utara, Taman Beji Samuan layak dimasukkan dalam perjalanan menjelajahi Carangsari. Datanglah dengan pakaian yang sesuai, ikuti arahan masyarakat lokal, jaga kebersihan, dan nikmati suasananya tanpa terburu-buru.
Dengan sikap seperti itu, perjalanan bukan hanya menghasilkan foto, tetapi juga pemahaman yang lebih dalam tentang budaya Bali.
FAQ
1. Di mana Taman Beji Samuan berada?
Taman Beji Samuan berada di Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, tepatnya di kawasan lembah Sungai Yeh Penet.
2. Apa yang bisa dilakukan di Taman Beji Samuan?
Pengunjung dapat menikmati suasana alam dan, dengan mengikuti tata cara setempat, mengenal atau menjalankan ritual melukat. Tempat ini merupakan salah satu atraksi spiritual resmi Desa Wisata Carangsari.
3. Berapa banyak kawasan penglukatan di Taman Beji Samuan?
Penelitian mengenai Taman Beji Samuan mencatat tiga kawasan utama, yaitu Campuhan, Beji Dalem, dan Sapta Rsi.
4. Apakah ada tujuh pancuran di Taman Beji Samuan?
Ya. Kawasan Sapta Rsi memiliki tujuh pancuran yang bersumber dari mata air alami dan menjadi salah satu bagian paling dikenal dari tempat penglukatan ini.
5. Apakah wisatawan non-Hindu boleh berkunjung?
Tempat ini dibuka untuk pengunjung dan dipromosikan sebagai bagian dari Desa Wisata Carangsari. Namun, semua pengunjung perlu mengikuti tata krama, pakaian, serta aturan yang ditetapkan pengelola kawasan suci.