Asal-Usul Desa Carangsari dan Perkembangannya dari Masa ke Masa

Jika melihat Desa Carangsari hari ini, kita akan menemukan sebuah desa Bali yang dikenal karena sejarah, budaya, alam, sekaligus hubungannya dengan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.

Namun, jauh sebelum dikenal sebagai desa wisata, kawasan ini memiliki perjalanan panjang yang berawal dari hutan dan beberapa permukiman kecil yang berdiri sendiri.

Asal-usul Desa Carangsari menarik untuk ditelusuri karena pembentukan desa ini tidak terjadi dalam satu malam.

Sejarah lokal menyebut adanya tiga wilayah awal, yaitu Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah. Masing-masing memiliki pemimpin sendiri sebelum akhirnya disatukan dalam satu wilayah bernama Carangsari.

Perjalanan Carangsari kemudian melewati masa kerajaan lokal, pemerintahan kolonial Belanda, periode perjuangan kemerdekaan, hingga era pembangunan desa modern. Kini, Carangsari bahkan berkembang sebagai desa wisata berbasis sejarah, budaya, dan potensi masyarakat.

Mari melihat bagaimana sebuah kawasan yang dahulu dikelilingi hutan berubah menjadi salah satu desa bersejarah yang menarik di Kabupaten Badung.

Mengenal Desa Carangsari dan Lingkungan Geografisnya

Desa Carangsari terletak di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, dengan luas sekitar 885 hektare. Posisi geografis desa cukup menarik karena sebelah baratnya dibatasi Sungai Penet, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Ayung.

Di sebelah utara, Carangsari berbatasan dengan Desa Getasan dan di bagian selatan dengan Desa Sangeh. Bentang wilayah yang dipengaruhi sungai, persawahan, kebun, dan kawasan hijau tersebut ikut membentuk pola kehidupan masyarakat sejak masa lampau.

Sampai sekarang, karakter agraris masih cukup kuat. Profil resmi desa menyebut sekitar 60 persen warga Carangsari aktif dalam kegiatan bercocok tanam.

Desa ini juga terdiri dari sepuluh wilayah banjar, termasuk Banjar Telugtug yang namanya mengingatkan kita pada salah satu permukiman awal dalam sejarah Carangsari.

Kondisi geografis tersebut penting untuk memahami sejarah desa. Carangsari berkembang bukan hanya karena perubahan pemerintahan, tetapi juga karena hubungan masyarakat dengan tanah, sungai, pertanian, dan lingkungan sekitarnya.

Asal-Usul Carangsari Sebelum Abad ke-14

Menurut sejarah lokal yang diterbitkan Pemerintah Desa Carangsari, sebelum abad ke-14 kawasan Carangsari sebagian besar masih berupa hutan belantara.

Meski demikian, wilayah tersebut bukan benar-benar kosong karena sudah terdapat tiga kelompok permukiman, yaitu Desa Telugtug, Desa Bebalang, dan Desa Alas Wayah.

Ketiganya berada cukup berjauhan dan memiliki pemimpin masing-masing. Bebalang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Bebalang, Telugtug berada di bawah Mekel Telugtug, sedangkan Alas Wayah dipimpin Brahmana Batulumbang atau Manuaba.

Ketiga permukiman berada dalam kawasan yang diapit Sungai Ayung di timur dan Sungai Penet di barat. Sementara itu, daerah di sebelah utara dan selatan masih didominasi hutan.

Gambaran ini menunjukkan bahwa Carangsari pada awalnya bukan sebuah desa tunggal seperti sekarang. Identitas Carangsari justru tumbuh melalui proses penyatuan beberapa komunitas yang sebelumnya memiliki struktur kepemimpinan sendiri.

Hal seperti ini sebenarnya cukup menarik dalam membaca sejarah desa-desa di Bali. Nama desa modern sering kali menyimpan cerita tentang perubahan permukiman, hubungan kekuasaan, adat, dan kondisi alam yang berlangsung selama beberapa generasi.

Kedatangan I Gusti Ngurah Gede Oka Pacung Sakti

Perubahan penting dalam sejarah Carangsari disebut terjadi sekitar abad ke-14. Pada masa tersebut, I Gusti Ngurah Gede Oka Pacung Sakti, yang dalam sejarah lokal juga dikaitkan dengan Arya Sentong, datang bersama para pengikutnya ke kawasan Alas Wayah.

Menurut versi sejarah desa, kedatangannya berhubungan dengan pergolakan yang terjadi di Pahyangan, sebuah wilayah di sebelah timur Sungai Ayung.

Konflik politik menyebabkan perang dan perebutan kekuasaan sehingga rombongan tersebut akhirnya berada di kawasan Alas Wayah.

Keberadaannya kemudian diketahui para pemimpin Telugtug dan Bebalang. Kedua pemimpin lokal mendatangi Alas Wayah dan meminta I Gusti Ngurah Gede Oka Pacung Sakti untuk memimpin wilayah mereka.

Permintaan tersebut diterima, tetapi terdapat satu prinsip penting: pusat kepemimpinan harus berada di tengah-tengah wilayah masyarakat yang dipimpin.

Dari sinilah salah satu tahap paling penting dalam sejarah terbentuknya Desa Carangsari dimulai.

Berdirinya Puri dan Lahirnya Nama Carangsari

Lokasi yang dipilih sebagai pusat kepemimpinan kemudian menjadi kawasan Puri Carangsari. Letaknya dianggap berada di tengah tiga wilayah utama sehingga dapat menjadi pusat bagi masyarakat Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah.

Pemerintah Desa Carangsari menjelaskan bahwa nama Carangsari memiliki filosofi yang berkaitan dengan posisi seorang pemimpin.

Pemimpin ideal digambarkan berada di tengah masyarakat, menyatu dengan masyarakat, serta mampu menengahi persoalan secara bijaksana. Puri Carangsari pun ditempatkan sebagai titik tengah ketiga wilayah tersebut.

Nama Carangsari juga memiliki interpretasi lain yang berhubungan dengan kesuburan, yakni kawasan tempat berbagai jenis tumbuhan yang ditanam dapat berkembang dengan baik.

Setelah pusat baru tersebut terbentuk, Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah akhirnya tergabung dan dikenal sebagai Desa Carangsari. Kawasan hutan di sebelah utara desa selanjutnya disebut Gunungsari.

Puri Agung Carangsari kemudian memiliki kedudukan penting dalam perjalanan desa. Pemerintah Kabupaten Badung bahkan menyebutnya sebagai pusat peradaban Carangsari sejak masa lalu.

Carangsari pada Masa Kolonial hingga Perjuangan Kemerdekaan

Perjalanan Carangsari tidak berhenti pada masa pembentukan desa. Ketika kekuasaan kolonial Belanda berkembang di Bali, nama Carangsari juga digunakan dalam struktur pemerintahan setempat.

Catatan sejarah desa menyebut bahwa pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Carangsari ditetapkan sebagai nama Kemancan, dengan pusat Manca berada di Carangsari. Wilayahnya disebut mencakup kawasan yang kurang lebih menjadi Kecamatan Petang sekarang.

Memasuki abad ke-20, Carangsari memperoleh tempat khusus dalam sejarah perjuangan Indonesia. Puri Agung Carangsari dikenal sebagai tempat kelahiran I Gusti Ngurah Rai, tokoh yang kemudian menjadi salah satu pahlawan nasional terpenting dari Bali.

Jejak tersebut membuat identitas Carangsari berkembang lebih jauh. Desa ini bukan hanya memiliki sejarah lokal, tetapi juga terhubung dengan sejarah perjuangan kemerdekaan nasional.

Saat ini, hubungan itu masih dapat ditemukan melalui Puri Agung Carangsari, Monumen I Gusti Ngurah Rai, dan berbagai kegiatan yang mempertahankan ingatan tentang perjuangan sang pahlawan.

Dari Desa Agraris Menuju Desa yang Terus Berkembang

Setelah memasuki era pembangunan modern, kehidupan Carangsari tetap berakar pada lingkungan pedesaan dan sektor pertanian. Sawah, perkebunan, dan aktivitas bercocok tanam masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Data profil desa menyebut Carangsari mempunyai 10 banjar dan 4.655 penduduk pada data yang ditampilkan pemerintah desa. Semboyannya, Rumaketing Taksuning Jagat, dijelaskan sebagai semangat menghimpun potensi desa untuk membangun desa.

Semangat tersebut cukup menggambarkan perkembangan Carangsari saat ini. Potensi yang dahulu sebagian besar bertumpu pada pertanian mulai berkembang menuju budaya, pendidikan, industri kreatif, UMKM, dan pariwisata.

Yang menarik, perkembangan ekonomi tersebut tidak harus menghilangkan karakter lama desa. Justru lanskap pertanian, tradisi, pura, puri, kuliner lokal, serta sejarah masyarakat menjadi aset yang dapat dikembangkan bersama.

Dengan kata lain, perjalanan Carangsari menunjukkan bagaimana sebuah desa dapat bergerak menuju ekonomi modern tanpa sepenuhnya melepaskan identitas tradisionalnya.

Carangsari Bertransformasi Menjadi Desa Wisata Sejarah

Salah satu fase terbaru perkembangan desa adalah munculnya Desa Wisata Carangsari. Pemerintah Kabupaten Badung menyebut konsep pengembangannya berfokus pada pelestarian warisan sejarah, adat dan budaya, pemberdayaan UMKM, edukasi, serta digitalisasi.

Upaya tersebut mendapat pengakuan ketika Carangsari masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia kategori Desa Berkembang pada Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.

Daya tariknya memang cukup lengkap. Wisatawan dapat mengenal sejarah melalui Puri Agung Carangsari dan Monumen I Gusti Ngurah Rai, kemudian menjelajahi budaya melalui kesenian lokal seperti Topeng Tugek.

Desa ini juga menawarkan lanskap sawah, perkebunan kopi dan kakao, trekking, serta aktivitas di Sungai Ayung.

Pengembangan pariwisata juga mulai dikaitkan dengan UMKM dan ekonomi masyarakat. Dinas Pariwisata Badung bahkan pernah menjadikan Carangsari sebagai lokasi studi tiru pengembangan desa wisata berbasis masyarakat dan potensi lokal.

Penataan kawasan Monumen I Gusti Ngurah Rai juga diarahkan untuk menyediakan ruang rekreasi, edukasi, kegiatan masyarakat, sekaligus mendukung Carangsari sebagai destinasi wisata sejarah.

Menjaga Sejarah di Tengah Perubahan Zaman

Perkembangan pariwisata membawa peluang ekonomi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Ketika sebuah desa bersejarah semakin banyak dikunjungi, warisan lokal perlu dijaga agar tidak berubah sekadar menjadi latar untuk aktivitas wisata.

Carangsari memiliki modal yang sangat kuat karena sejarahnya masih berkaitan dengan ruang hidup masyarakat. Puri, pura, banjar, kesenian, pertanian, dan berbagai tradisi bukan benda yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pengembangan desa yang ideal bukan hanya mengejar jumlah pengunjung. Pelestarian situs bersejarah, dokumentasi cerita para tetua, penguatan seni tradisional, dukungan kepada petani dan UMKM, serta pendidikan sejarah bagi generasi muda sama pentingnya.

Jika dilakukan secara seimbang, Carangsari dapat terus berkembang tanpa kehilangan cerita tentang bagaimana desa ini terbentuk.

Asal-usul Desa Carangsari merupakan perjalanan panjang dari tiga permukiman lama-Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah-yang kemudian disatukan dengan Puri Carangsari sebagai pusatnya.

Dalam perjalanan berikutnya, desa ini melewati masa kolonial, menjadi bagian dari sejarah perjuangan nasional melalui I Gusti Ngurah Rai, serta tumbuh sebagai masyarakat agraris yang terus berkembang.

Kini Carangsari memasuki babak baru sebagai desa wisata yang memadukan sejarah, budaya, alam, UMKM, dan aktivitas masyarakat lokal. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu harus menghapus masa lalu.

Jika suatu hari berkunjung ke Badung bagian utara, sempatkan menjelajahi Carangsari. Jangan hanya menikmati pemandangannya—kenali pula puri, tradisi, situs sejarah, dan cerita masyarakat yang membuat desa ini berbeda dari banyak destinasi lain di Bali.

FAQ

1. Di mana Desa Carangsari berada?

Desa Carangsari berada di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Luas wilayahnya sekitar 885 hektare dan terletak di antara Sungai Penet dan Sungai Ayung.

2. Apa nama wilayah sebelum terbentuk Desa Carangsari?

Sejarah lokal menyebut tiga permukiman utama yang telah ada sebelumnya, yaitu Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah. Ketiganya kemudian tergabung menjadi Desa Carangsari.

3. Apa asal-usul nama Carangsari?

Menurut sejarah desa, nama Carangsari berkaitan dengan filosofi pemimpin yang berada di tengah masyarakat untuk menyatukan dan menengahi persoalan. Nama tersebut juga dikaitkan dengan kesuburan tanah tempat berbagai tumbuhan dapat tumbuh.

4. Mengapa Puri Agung Carangsari penting?

Puri Agung Carangsari berkembang sebagai pusat kehidupan dan sejarah desa. Tempat ini juga dikenal sebagai lokasi kelahiran Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.

5. Apakah Carangsari sekarang menjadi desa wisata?

Ya. Carangsari dikembangkan sebagai desa wisata berbasis sejarah, budaya, alam, dan ekonomi masyarakat. Desa ini masuk 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia kategori Desa Berkembang dalam ADWI 2021.