Bali bukan hanya tentang pantai, pura megah, dan kawasan wisata yang ramai.
Di bagian utara Kabupaten Badung, ada sebuah desa yang menyimpan cerita panjang tentang pembentukan wilayah, kehidupan masyarakat tradisional Bali, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Desa itu adalah Carangsari, yang kini semakin dikenal sebagai tanah kelahiran Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. Sejarah Desa Carangsari menarik karena perjalanan desa ini sudah dimulai jauh sebelum masa perjuangan kemerdekaan.
Berdasarkan sejarah lokal yang dihimpun pemerintah desa dari tetua adat, sesepuh, pengelingsir Puri Carangsari, dan pemerhati sejarah setempat, kawasan Carangsari dahulu terdiri dari beberapa permukiman yang terpisah.
Dari proses penyatuan wilayah itulah kemudian lahir sebuah desa dengan identitas yang kuat.
Berabad-abad kemudian, Carangsari kembali masuk dalam perjalanan penting sejarah Indonesia ketika I Gusti Ngurah Rai lahir di desa ini pada 30 Januari 1917.
Dari sebuah desa agraris di Bali, perjalanan hidupnya kemudian mengantarkan namanya menjadi salah satu simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Mengenal Desa Carangsari di Kabupaten Badung
Desa Carangsari berada di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Luas wilayahnya sekitar 885 hektare.
Di sebelah utara desa berbatasan dengan Desa Getasan, di selatan dengan Desa Sangeh, sementara Sungai Penet menjadi batas bagian barat dan Sungai Ayung berada di sebelah timur.
Posisi yang berada di antara dua sungai ini ternyata juga muncul dalam cerita sejarah awal Carangsari. Wilayah tersebut sejak dahulu memiliki kawasan pertanian dan permukiman yang berkembang di tengah bentang alam Bali bagian pedalaman.
Menurut profil resmi desa, aktivitas masyarakat Carangsari juga sangat dekat dengan sektor agraris.
Pemerintah desa mencatat sekitar 60 persen warga beraktivitas dalam bidang bercocok tanam. Kondisi tersebut membuat lanskap persawahan, kebun, sungai, dan kawasan hijau menjadi bagian penting dari identitas Carangsari.
Menariknya, desa ini mempunyai semboyan “Rumaketing Taksuning Jagat”, yang dimaknai sebagai upaya menghimpun berbagai potensi yang dimiliki masyarakat untuk membangun desa.
Asal-Usul dan Sejarah Awal Desa Carangsari
Catatan sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Desa Carangsari menyebut bahwa sebelum abad ke-14, wilayah yang sekarang menjadi Carangsari sebagian besar masih berupa kawasan hutan.
Di dalamnya sudah terdapat beberapa kelompok permukiman, yaitu Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah.
Ketiga wilayah tersebut memiliki pimpinan masing-masing. Bebalang dipimpin I Gusti Ngurah Bebalang, Telugtug dipimpin Mekel Telugtug, sedangkan kawasan Alas Wayah berada di bawah Brahmana Batulumbang atau Manuaba.
Letaknya tidak berdekatan, tetapi masih berada dalam suatu kawasan yang secara geografis diapit Sungai Ayung dan Sungai Penet.
Datangnya I Gusti Ngurah Gede Oka Pacung Sakti
Sekitar abad ke-14, menurut sejarah lokal tersebut, I Gusti Ngurah Gede Oka Pacung Sakti atau Arya Sentong datang bersama pengikutnya menuju kawasan Alas Wayah setelah terjadinya konflik di Pahyangan.
Perjalanan inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam proses terbentuknya Carangsari.
Setelah berbagai peristiwa politik dan konflik yang diceritakan dalam sejarah desa, Arya Sentong akhirnya diminta oleh para pemimpin wilayah setempat untuk menjadi pemimpin di kawasan sebelah barat Sungai Ayung.
Ia bersedia dengan satu syarat: tempat kedudukannya harus berada di tengah wilayah masyarakat yang dipimpinnya.
Lokasi yang kemudian dipilih menjadi tempat kedudukannya adalah kawasan yang sekarang dikenal sebagai Puri Carangsari.
Dari Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah Menjadi Carangsari
Pemilihan lokasi Puri Carangsari di tengah wilayah memiliki makna lebih dari sekadar pertimbangan geografis.
Dalam sejarah lokal desa, posisi tersebut mencerminkan gagasan bahwa seorang pemimpin seharusnya berada di tengah masyarakat, mampu menjadi penghubung, dan membantu menyelesaikan berbagai persoalan dengan bijaksana.
Seiring perjalanan waktu, wilayah Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah kemudian tergabung dan dikenal sebagai Desa Carangsari.
Nama Carangsari sendiri mempunyai penafsiran lokal yang menarik. Selain dikaitkan dengan kedudukan pemimpin di tengah masyarakat, nama tersebut juga memiliki arti bahwa berbagai tumbuhan yang ditanam di kawasan itu dapat tumbuh dengan subur.
Interpretasi tersebut terasa cukup sesuai dengan karakter Carangsari yang hingga kini memiliki kehidupan agraris yang kuat.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, nama Carangsari disebut telah digunakan sebagai nama Kemancan, dengan pusat Manca berada di Carangsari dan wilayahnya meliputi kawasan yang kurang lebih menjadi Kecamatan Petang sekarang.
Puri Agung Carangsari dan Perannya dalam Sejarah Desa
Sulit membicarakan sejarah Carangsari tanpa menyebut Puri Agung Carangsari. Puri ini bukan sekadar kompleks kediaman keluarga bangsawan, tetapi mempunyai posisi penting dalam perkembangan sejarah dan kehidupan sosial desa.
Pemerintah Kabupaten Badung menyebut Puri Agung Carangsari sebagai salah satu pusat peradaban Desa Carangsari sejak masa lalu. Tempat ini pula yang kemudian dikenal luas karena menjadi lokasi kelahiran I Gusti Ngurah Rai.
Keberadaan puri membuat sejarah desa terasa lebih nyata.
Pengunjung tidak hanya membaca nama Carangsari dalam buku sejarah, tetapi dapat melihat langsung lingkungan yang berkaitan dengan perjalanan keluarga serta masa awal kehidupan salah satu tokoh penting perjuangan Indonesia.
Hubungan antara puri dan masyarakat juga menjadi bagian dari identitas Carangsari. Bahkan dalam kegiatan napak tilas perjuangan I Gusti Ngurah Rai, pataka dan panji-panji perjuangan pernah disemayamkan di Puri Carangsari sebelum perjalanan dilanjutkan menuju lokasi berikutnya.
Carangsari sebagai Tanah Kelahiran I Gusti Ngurah Rai
Nama Carangsari semakin penting dalam sejarah nasional karena pada 30 Januari 1917, lahirlah I Gusti Ngurah Rai di desa ini. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat ia merupakan putra I Gusti Ngurah Pacung dan I Gusti Ayu Kompiang.
Ketika dewasa, Ngurah Rai menjalani pendidikan militer di Gianyar. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan kemampuan militernya sekaligus memperkuat semangat nasionalisme yang kelak terlihat ketika ia memimpin perjuangan di Bali.
Ngurah Rai kemudian menjadi salah satu tokoh utama dalam perlawanan terhadap kembalinya kekuasaan Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
ANRI mencatat dirinya sebagai pendiri dan panglima pertama satuan angkatan bersenjata di Kepulauan Sunda Kecil serta pemimpin langsung perlawanan anti-Belanda di Bali.
Karena itulah, Carangsari bukan hanya dapat disebut sebagai tempat kelahirannya secara administratif. Desa ini merupakan titik awal perjalanan seorang tokoh yang kemudian mempunyai posisi besar dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Dari Carangsari Menuju Puputan Margarana
Perjalanan perjuangan I Gusti Ngurah Rai berlangsung jauh melampaui kampung halamannya. Bersama pasukannya, termasuk pasukan yang dikenal sebagai Ciung Wanara, ia menjalankan strategi gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Bali.
Puncak perjuangannya terjadi pada 20 November 1946 dalam pertempuran yang kemudian dikenang sebagai Puputan Margarana di wilayah Marga, Tabanan.
Pemerintah Kabupaten Badung memperingati tanggal tersebut sebagai salah satu momentum penting perjuangan Ngurah Rai dan pasukannya.
ANRI mencatat bahwa dalam pertempuran terakhir di Margarana, sekitar 96 pejuang Bali gugur bersama I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa ini kemudian menjadi simbol keberanian dan tekad mempertahankan kemerdekaan di Bali.
Hubungan antara Carangsari dan Margarana akhirnya membentuk semacam jalur memori sejarah: Carangsari menjadi tempat kelahiran sang pejuang, sementara Margarana menjadi tempat berlangsungnya pertempuran terakhirnya.
Jejak Perjuangan I Gusti Ngurah Rai Masih Hidup di Carangsari
Warisan sejarah tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sampai sekarang, masyarakat dan pemerintah daerah masih menjaga ingatan tentang perjuangan I Gusti Ngurah Rai melalui monumen, kegiatan budaya, pendidikan sejarah, dan tradisi napak tilas.
Salah satu tempat penting adalah Monumen Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai di Carangsari.
Kawasan Taman Pahlawan Carangsari juga telah ditata dengan sejumlah fasilitas, termasuk museum, sebagai ruang untuk mempertahankan nilai sejarah sekaligus mengenalkannya kepada generasi berikutnya.
Setiap rangkaian peringatan Puputan Margarana, Carangsari juga menjadi bagian penting rute napak tilas.
Pataka dan panji-panji perjuangan dibawa menuju desa kelahirannya dan disambut masyarakat. Pada kegiatan tahun 2024, misalnya, prosesi menuju monumen di Carangsari turut diiringi baleganjur serta mepeed masyarakat setempat.
Tradisi seperti ini membuat sejarah tidak hanya tersimpan di museum, tetapi tetap hadir di tengah kehidupan warga.
Dari Desa Bersejarah Menjadi Desa Wisata
Kini Carangsari juga berkembang sebagai desa wisata berbasis sejarah, budaya, dan alam. Desa ini bahkan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia pada 2021.
Puri Agung Carangsari dan Monumen I Gusti Ngurah Rai menjadi daya tarik penting untuk wisata sejarah.
Di sisi lain, desa ini mempunyai kekayaan budaya seperti seni Topeng Tugek serta potensi alam berupa persawahan, perkebunan kopi dan kakao, trekking, hingga aktivitas di Sungai Ayung.
Perpaduan inilah yang membuat Carangsari sering diperkenalkan sebagai “Carangsari the Historical Village.” Wisatawan dapat menikmati alam Bali sekaligus memahami cerita masyarakat dan perjuangan nasional yang pernah tumbuh dari desa ini.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah bukan sekadar sesuatu untuk dikenang. Ia juga menjadi modal pendidikan, identitas lokal, dan pengembangan pariwisata yang memberi manfaat kepada masyarakat.
Sejarah Desa Carangsari memperlihatkan perjalanan panjang sebuah desa Bali, mulai dari penyatuan wilayah Telugtug, Bebalang, dan Alas Wayah, berdirinya Puri Carangsari sebagai pusat masyarakat, hingga kelahiran I Gusti Ngurah Rai pada 1917.
Warisan terbesar Carangsari bukan sekadar memiliki nama seorang pahlawan nasional dalam sejarahnya. Desa ini terus berusaha menjaga ingatan tentang perjuangan tersebut melalui puri, monumen, museum, kegiatan napak tilas, adat, dan kehidupan masyarakatnya.
Jika berkunjung ke Kabupaten Badung, cobalah melihat Carangsari bukan hanya sebagai destinasi wisata.
Luangkan waktu mengunjungi jejak sejarahnya dan memahami cerita di balik tempat-tempat tersebut. Dari sebuah desa di Bali inilah perjalanan salah satu tokoh besar perjuangan Indonesia bermula.
FAQ
1. Di mana Desa Carangsari berada?
Desa Carangsari berada di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Wilayahnya berada di antara Sungai Ayung di sebelah timur dan Sungai Penet di sebelah barat.
2. Mengapa Desa Carangsari terkenal?
Carangsari dikenal karena sejarah dan budayanya, terutama sebagai tempat kelahiran Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai. Desa ini juga memiliki Puri Agung Carangsari, monumen pahlawan, serta berbagai potensi wisata alam dan budaya.
3. Kapan I Gusti Ngurah Rai lahir?
I Gusti Ngurah Rai lahir di Desa Carangsari pada 30 Januari 1917.
4. Apa hubungan I Gusti Ngurah Rai dengan Puputan Margarana?
I Gusti Ngurah Rai memimpin perjuangan melawan pasukan Belanda di Bali. Perjuangannya mencapai puncak dalam Puputan Margarana pada 20 November 1946, ketika ia dan pasukannya gugur dalam pertempuran.
5. Apa saja peninggalan sejarah yang dapat ditemukan di Carangsari?
Beberapa tempat yang berkaitan erat dengan sejarah desa adalah Puri Agung Carangsari, Monumen Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, Taman Pahlawan Carangsari, serta Pura Puseh Kangin/Pusering Jagat yang juga disebut mempunyai hubungan dengan kegiatan pada masa perjuangan.
